Jika engkau adalah panutan ragaku
dan bila saja nyanyian itu selalu untukku
singgah rindumu kunanti sepanjang hayat
melumat aliran dengus nafasmu seusia bumi
Berikrar aku dalam hati
perempuan abadi yang tersimpan rapat di hati
kukencani sepanjang malam
dan membiarkan bulan berjalan lamban
aku tak ingin malam cepat berlalu
Riak gelombang nan pasang surut
kukayuh bersama hingga menepi di dermaga itu
aku tak akan lalai menggamit tanganmu
perkasaku rela kujadikan tameng
Seserius itu aku bermimpi
khayalku memang nakal meski tak kukenal
dengan siapa aku telah "senggama"
dengan sembunyipun aku tak tahu jawabnya
Rupawanmu terkubur rapat-rapat
masih di balik selimut yang kemaren
dengan rengekan manja yang lalu-lalu
dengan lelaki yang itu-itu juga
Khayalku hilang di ujung malam
kokok ayam menjamahku untuk tersadar
sempurna nian malam ini
esok, bilakah engkau masih bisa "kokencani"?
Gunung Potri, 11122009
Untuk Karib di Kota Bandung, maaf jika ini dianggap sebuah kelancangan. Met Ultah, Panjang umur ya....
Jumat, 11 Desember 2009
Selasa, 27 Oktober 2009
Seroja Taman Hati
Bisa jadi inilah hasil karya kesekian setelah lama aku tak bisa "bertelur",. Dusun ini tertinggal jauh dan tak pernah aku isi dengan perkakas berupa coretan. Tersebutlah seorang ibu muda, penampilannya tak bisa dibilang sederhana. Jaman telah menuntunnya menjadi pribadi yang berusaha "mengikuti alur", bersedekah pada kemanjaan diri dan melenakan keanggunan dengan caranya sendiri.
Telisik dengan kelopak matamu, dia memang tak secantik bidadari tapi senyumnya memberi inspirasi. Obrolannya pernah bersarang di otakku, turun ke dalam lipatan hati lalu bersembunyi dalam ingatan.
Dirinya, mempunyai kerinduan tak terperi pada kedua orangtuanya. Sebuah pengabdian nurani dengan logika yang sangat wajar!

Coba dengar rintihan ini...!
Kini aku tak menemukan lagi...
seraut wajah kemaren berdaster jingga
dengan polesan wajah nan bersahaja
memunguti kehidupan dengan cara berbeda
meski hatimu sebenarnya pernah terluka
diammu seolah pertanda surga.
Aku tak lelah untuk mengingatmu
berkirim doa tak hanya sekali sepekan
tapi juga setiap dengus nafasku
memberi ruang terlapang, dengan zikir
dan syair sembah sujudku.
Sesekali aku sering mengintip
di sela hati yang kukorek kembali ke masa silam
agung nian engkau punya pribadi
luluh santunmu ajari aku untuk bertutur
aku meranggas merindukanmu, Ibu...
Kini aku tak menemukan lagi...
wajah tampan berkalung sorban
yang kadang terdiam di pojok rumah
secangkir teh dan koran pagi adalah temanmu
membekas dalam ingatku, bermuara hingga ke hati
Marah sepagi itu yang kau berikan
luluhkan jiwa nakalku untuk sembunyi
merapat dalam telunjukmu dan bersandar dalam titahmu
aku ketakutan, tapi juga terlindungi
Aku rindu dendam untuk menemuimu, Bapak...
Sepenggal cerita jatuh satu-satu
kemolekan duniawai membawaku dalam dahaga
dahaga untuk menikmati bersama mereka
memberikan kasih sayang seutuh kain
tanpa renda, tanpa jeda, tanpa jahitan...
ketulusan abadi dari ankmu...
Tersenyumlah, wahai jiwa yang tenang
ankmu, akan mengukir namamu dalam balutan doa
yang berselimut ribuan zikir
mereka, SEROJA di taman hatiku
Terimakasih buat Teteh di Soreang-Bandung atas inspirasinya. Maaf beribu maaf jika ada kata-kata yang tak berkenan. Protesnya aku tunggu!
Telisik dengan kelopak matamu, dia memang tak secantik bidadari tapi senyumnya memberi inspirasi. Obrolannya pernah bersarang di otakku, turun ke dalam lipatan hati lalu bersembunyi dalam ingatan.
Dirinya, mempunyai kerinduan tak terperi pada kedua orangtuanya. Sebuah pengabdian nurani dengan logika yang sangat wajar!

Coba dengar rintihan ini...!
Kini aku tak menemukan lagi...
seraut wajah kemaren berdaster jingga
dengan polesan wajah nan bersahaja
memunguti kehidupan dengan cara berbeda
meski hatimu sebenarnya pernah terluka
diammu seolah pertanda surga.
Aku tak lelah untuk mengingatmu
berkirim doa tak hanya sekali sepekan
tapi juga setiap dengus nafasku
memberi ruang terlapang, dengan zikir
dan syair sembah sujudku.
Sesekali aku sering mengintip
di sela hati yang kukorek kembali ke masa silam
agung nian engkau punya pribadi
luluh santunmu ajari aku untuk bertutur
aku meranggas merindukanmu, Ibu...
Kini aku tak menemukan lagi...
wajah tampan berkalung sorban
yang kadang terdiam di pojok rumah
secangkir teh dan koran pagi adalah temanmu
membekas dalam ingatku, bermuara hingga ke hati
Marah sepagi itu yang kau berikan
luluhkan jiwa nakalku untuk sembunyi
merapat dalam telunjukmu dan bersandar dalam titahmu
aku ketakutan, tapi juga terlindungi
Aku rindu dendam untuk menemuimu, Bapak...
Sepenggal cerita jatuh satu-satu
kemolekan duniawai membawaku dalam dahaga
dahaga untuk menikmati bersama mereka
memberikan kasih sayang seutuh kain
tanpa renda, tanpa jeda, tanpa jahitan...
ketulusan abadi dari ankmu...
Tersenyumlah, wahai jiwa yang tenang
ankmu, akan mengukir namamu dalam balutan doa
yang berselimut ribuan zikir
mereka, SEROJA di taman hatiku
Terimakasih buat Teteh di Soreang-Bandung atas inspirasinya. Maaf beribu maaf jika ada kata-kata yang tak berkenan. Protesnya aku tunggu!
Selasa, 08 September 2009
Dusun Kami, Berduka Menjelang Buka Puasa...
Sabtu, 29 Agustus 2009
Kepada Lelaki "Pengembara"
Sahabat baru saya memang pernah mengungkapkan dalam coretannya bahwa puisi itu adalah sebuah kecengengan karena setiap dirinya jatuh cinta, kumpulan unek-uneknya yang tersimpan dalam hati lalu keluar dalam bentuk "keusilan" yang tak urung isinya adalah air mata.
Disebutkannya pula, selain kecengengan tadi, dirinya sempat berujar bahwa apa yang ditulisnya merupakan sebentuk pemberontakan terhadap keadaan yang mendera dirinya. Rasa kecewa dan kepedihan yang ditimbulkan oleh sang Arjuna membuat ia merasa perlu untuk kecewa tapi tidak untuk menulis puisi. Kenapa?
Bisa jadi apa yang saya tulis adalah sebuah kecengengan. Atau pula sebuah karya seni dengan inspirasi sebuah kekecewaan itu tadi. Cengeng atau tidak, nikmati saja karena hidup akan terus digelayuti perasaan tak puas jika melulu bicara kecocokan. Hidup ini adalah beragam!
Bila saja engkau pernah mengendap dalam basah jiwaku
kuyakini sepenuh hati engkau kini bagian ragaku
sengaja kubakar rasa cemburu dengan dandanku
kelak engkau tak berlari dariku
Murni rasa yang kuberikan,
kau teguk angkuh dengan sangat dahaga
aku tersenyum puas sepenuh harap
sepenggal sejarah hidup akan diisii bersamamu
Bulan murung mengais awan
hujan selangkah mengguyur bumi
kesetiaan laksana laknat durjana
rupanya engkau mulai menginjak di lahan basah
berselingkuh pada beda alam. Aku terluka
Jika sudah begini...,
padamu aku tak menemukanmu sebagai lelaki
padamu aku tak mendapatimu sebagai pria
janji hati hanya melekat dalam sesaat
lalu hilang dan kembali mengembara
aku terluka..., Aku tak percaya...
Thanks To Risa di Gresik atas inspirasinya.
Disebutkannya pula, selain kecengengan tadi, dirinya sempat berujar bahwa apa yang ditulisnya merupakan sebentuk pemberontakan terhadap keadaan yang mendera dirinya. Rasa kecewa dan kepedihan yang ditimbulkan oleh sang Arjuna membuat ia merasa perlu untuk kecewa tapi tidak untuk menulis puisi. Kenapa?
Bisa jadi apa yang saya tulis adalah sebuah kecengengan. Atau pula sebuah karya seni dengan inspirasi sebuah kekecewaan itu tadi. Cengeng atau tidak, nikmati saja karena hidup akan terus digelayuti perasaan tak puas jika melulu bicara kecocokan. Hidup ini adalah beragam!
Bila saja engkau pernah mengendap dalam basah jiwaku
kuyakini sepenuh hati engkau kini bagian ragaku
sengaja kubakar rasa cemburu dengan dandanku
kelak engkau tak berlari dariku
Murni rasa yang kuberikan,
kau teguk angkuh dengan sangat dahaga
aku tersenyum puas sepenuh harap
sepenggal sejarah hidup akan diisii bersamamu
Bulan murung mengais awan
hujan selangkah mengguyur bumi
kesetiaan laksana laknat durjana
rupanya engkau mulai menginjak di lahan basah
berselingkuh pada beda alam. Aku terluka
Jika sudah begini...,
padamu aku tak menemukanmu sebagai lelaki
padamu aku tak mendapatimu sebagai pria
janji hati hanya melekat dalam sesaat
lalu hilang dan kembali mengembara
aku terluka..., Aku tak percaya...
Thanks To Risa di Gresik atas inspirasinya.
Kamis, 09 Juli 2009
Kepada Penguasa Alam
Tentu saja aku masih bisa tersenyum kendati blog ini sangat jarang aku jumpai. Tapi juga merasa sedih, seperti luka yang membiru, terasa denyutnya hingga membekas di sayatan hati.
Kepada siapa aku mesti berbagi ketika otakku tak menyimpan secuilpun sesuatu untuk ditulis. Gelapnya melingkar hati dan perasaan lalu membekas di otakku untuk tidak melakukan perintah untuk menulis hal apapun.

Kehilangan telah menjadikan aku begitu buntu. Kreasi hanya tersimpan di sudut kamar pengap dan menggelinding menuju tong sampah. Ketika kutengok, sudah sangat penuh tapi tak satupun yang berwujud. Ya, semua adalah sampah!
Coba dengar keluh kesahku wahai Penguasa Alam. Beri aku sedikit waktu untuk mengubah hidup kembali ke titik awal ketika aku tengah menerima "anugerahMu", seseorang dengan banyak pesona dan tak pernah menidurkan aku untuk tidak menulis.
Aku pulang...
Kepada siapa aku mesti berbagi ketika otakku tak menyimpan secuilpun sesuatu untuk ditulis. Gelapnya melingkar hati dan perasaan lalu membekas di otakku untuk tidak melakukan perintah untuk menulis hal apapun.

Kehilangan telah menjadikan aku begitu buntu. Kreasi hanya tersimpan di sudut kamar pengap dan menggelinding menuju tong sampah. Ketika kutengok, sudah sangat penuh tapi tak satupun yang berwujud. Ya, semua adalah sampah!
Coba dengar keluh kesahku wahai Penguasa Alam. Beri aku sedikit waktu untuk mengubah hidup kembali ke titik awal ketika aku tengah menerima "anugerahMu", seseorang dengan banyak pesona dan tak pernah menidurkan aku untuk tidak menulis.
Aku pulang...
Jumat, 29 Mei 2009
Mengukir Bayang-Bayang
Aku hanya bisa menemukanmu di ujung tidurku.
Berselimut perasaan yang mulai sering mengaduh,
kini pilumu tak lagi bisa aku dengar.
Aku mencoba untuk bertahan dalam perasaan yang sama,
tak berubah dan berdiri kokoh dalam heningnya.
Seperti pelangi, engkau memang banyak warna.
Kutemui sosokmu yang kemarin dan ternyata masih seperti yang dulu.
Kesetiaan rupanya hanya menghasilkan siksaan
kesetiaan hanya menghasilkan penantian dengan ujung seperti pisau
sesaat bisa membunuhku dan menyisakan luka kendati tiada tampak
kesetiaan adalah rela untuk dijadikan apa saja...
Aku pernah mengukirmu dengan bayangan serba indah
kuraba sangat hati-hati dan ternyata tak bisa kurasakan
ketika tanganku terkepal, angin hanya bisa berlalu
sepertinya, aku harus mencari kembali kepalan itu.
Berselimut perasaan yang mulai sering mengaduh,
kini pilumu tak lagi bisa aku dengar.
Aku mencoba untuk bertahan dalam perasaan yang sama,
tak berubah dan berdiri kokoh dalam heningnya.
Seperti pelangi, engkau memang banyak warna.
Kutemui sosokmu yang kemarin dan ternyata masih seperti yang dulu.
Kesetiaan rupanya hanya menghasilkan siksaan
kesetiaan hanya menghasilkan penantian dengan ujung seperti pisau
sesaat bisa membunuhku dan menyisakan luka kendati tiada tampak
kesetiaan adalah rela untuk dijadikan apa saja...
Aku pernah mengukirmu dengan bayangan serba indah
kuraba sangat hati-hati dan ternyata tak bisa kurasakan
ketika tanganku terkepal, angin hanya bisa berlalu
sepertinya, aku harus mencari kembali kepalan itu.
Minggu, 24 Mei 2009
Ilalang Semusim Jagung
Lama ditinggalkan, sisi kiri rumah pekarangan ini tampak kuyu kelabu. Sangat tak terawat. Pintu yang mulai sulit dibuka karena karat telah lama mengendap menjadi tambah kekuningan. Cuaca yang datang tak menentu membuat rumah ini kesepian dalam penantian yang tak berujung. Aku rupanya telah kehilangan makna untuk berkata-kata. Seisi pikiran tiba-tiba mengendap dalam balutan yang hampa, nyaris seperti awan yang sebenatr menggulung, sebentar ditiup angin.
Coba dengar wahai Kumbang Dusunku. Kini Aku datang hanya untukmu...
Khabar baik, bukan?
Akha..., engkau termangu begitu
kemana kebiasaanmu bersungut seperti senja dulu
ocehanmu lantang mengisi bening
kini punggungmu tampak membelakangi aku
Aku rupanya lelaki biasa
yang tak bisa berkata-kata tanpa isi hati
menipu menjadi mesra aku tak bisa
apalagi harus bermain sandiwara dalam lakon
aku lah lelaki kekinian
yang mencoba bicara seperti apa yg ada di hati
Sesekali aku sering memungut cerita sahabatmu
yang katanya sudah jemu untuk bertamu
terlalu sibuk menata rumah, walau hanya meletakan gelas
tiada keabadian memang....
Semusim jagung aku meninggalkanmu
tak banyak jejak yang terekam
aku tetap berada di sampingmu
mereka ulang isi cerita dengan tokoh yang berbeda
semoga kali ini memang lain...
Coba dengar wahai Kumbang Dusunku. Kini Aku datang hanya untukmu...
Khabar baik, bukan?
Akha..., engkau termangu begitu
kemana kebiasaanmu bersungut seperti senja dulu
ocehanmu lantang mengisi bening
kini punggungmu tampak membelakangi aku
Aku rupanya lelaki biasa
yang tak bisa berkata-kata tanpa isi hati
menipu menjadi mesra aku tak bisa
apalagi harus bermain sandiwara dalam lakon
aku lah lelaki kekinian
yang mencoba bicara seperti apa yg ada di hati
Sesekali aku sering memungut cerita sahabatmu
yang katanya sudah jemu untuk bertamu
terlalu sibuk menata rumah, walau hanya meletakan gelas
tiada keabadian memang....
Semusim jagung aku meninggalkanmu
tak banyak jejak yang terekam
aku tetap berada di sampingmu
mereka ulang isi cerita dengan tokoh yang berbeda
semoga kali ini memang lain...
Langgan:
Entri (Atom)

