Ada yang selalu ikut serta dalam benakku jika aku telah usai ‘bicara’ denganmu. Tak jenuh pula kita saling melempar kata, dari mulai yang tabu hingga yang perlu lalu kita nyaris lupa waktu.
Lama atau sebentar kita ‘bicara’, selalu meninggalkan jejak yang sama: rindu kembali untuk mengulang. Menghayati makna hidup, mengurai perjalanan waktu, dan tak lupa saling berbagi perasaan. Ringkihnya beban yang ada, barangkali bisa berkurang. Kendati tak selamanya menjadi penyembuh, sugesti ‘pembicaraan’ itu tak urung membuat semangat hidupku menyala padahal sebelumnya seperti meredup.
Bila saja hanya aku yang merasakan itu semua, mungkin tak akan berdosa sebab aku terbiasa dengan khayalan. Memanipulasi keadaan menjadi lebih baik kendati sebenarnya aku tengah berduka. Coba dengar rintihan kali ini sehabis aku meninggalkanmu itu:
Jejak bibirmu tertuang dalam ingatan
Semua kata-kata berdiam di tepian hati
Aku tahu engkau tak sedang ingkar janji
Membual dengan celoteh palsumu
Bila saja langkah kaki ini lebar berpijak
Sudah kukulum semua barisan kata-katamu
Kubawa pergi ke Dusun sunyi
Kukeloni hingga pagi
Dengan sepuas hati engkau kubawa pergi
Kutimbuni dengan rasa sesejuk embun pagi
Khawatirku tak kan dibiarkan berlalu
Engkau kujaga seperti lalu-lalu
Barangkali engkau tengah tersenyum
Larik puisi yang kuberikan haus kau minum
Dahagamu lalu tersandar dalam kerongkongan
Tapi aku masih terdiam dalam kekeringan
Keras kepala yang kau punya
Seperti onggokan batu di dasar laut
Sulit diselami, sukar dihancurkan
Tapi aku adalah GELOMBANG itu
Punya kuasa menjadikan BATU JADI KRISTAL
Menjadikan DASAR LAUT JADI DARATAN!
Malam kian beranjak menuju pagi. Aku masih melebur dengan gelapnya. Sungguh-sungguh aku tak pernah tahu apa yang dilakukannya manakala diriku tengah ‘membicarakannya”. Bilakah perasaanmu sama dengan yang kupunya?
Rangkasbitung, 301208
Selasa, 30 Desember 2008
Minggu, 28 Desember 2008
Dusun Kami, Kampung Kami
Menelusuri jalanan berkelok, tebing hampir sepanjang jalan di sebelah kiri, sedang di kanannya adalah jurang curam dengan kedalaman mencapai 20 meter dengan tekstur tanah nan landai. Di bawahnya sekumpulan petani kubis, kentang atau wortel bergelut melawan hawa dingin pagi itu. Mereka khusyu mencari penghidupan kendati dingin membungkus kulit. Jika dilihat dari atas, mereka tampak seperti sekumpulan kurcaci!
Perjalanan pulang kali ini ibarat nostalgia. Sebuah rekaman peristiwa yang monoton karena dari dulu hingga kini dusun kami tak banyak mengalami perubahan mulai dari inpra strukutur, ekonomi bahkan mungkin pembangunan sarana lainnya tak banyak mengalami kemajuan. Pejabatnya lebih asyik “bermain” di tingkat Pusat ketimbang turun ke kampung yang sarat jalanan becek.
Kecamatan Pangalengan jaraknya 42 KM dari pusat kota Bandung. Jika ditempuh dengan roda mesin cukup makan waktu 1,5 jam saja. Tak ada jalan alternatif, jalan yang ada itu pun peninggalan atau warisan Hindia Belanda yang awalnya merupakan jalan setapak. Untuk membuat jalan tersebut, Belanda cukup kepayahan karena harus mengikis bukit dan melibatkan lebih banyak lagi pribumi lokal.
Kampung Cipanas, adalah nama tempat kami tinggal. Disebut demikian karena tak jauh dari rumah kami terdapat Pemandian Air Panas Tirta Bidadari. Syahdan, nama ini diberikan karena jaman dulu tempat ini sering disinggahi para bidadari untuk sekedar mandi atau berendam. Sumber air panasnya berasal dari Gunung Wayang Windu, di mana hulu Sungai Citarum berada di sini.
Pemandian Air Panas Tirta Bidadari kini sudah tak seperti dulu lagi. Bangunannya tampak miring dan nyaris ambruk, kebersihan tak terjaga dan banyak pintu yang mulai lapuk. Tirta Bidadari kini benar-benar meradang. Sang “bidadari” pun tentu enggan bertamu lagi entah untuk mandi atau sekedar mampir. Bidadari, tempatnya adalah istana dan bukan tempat kumuh seperti itu. Demikian jika dianalogikan.

Sekeliling Dusun kami “dipagari” kebun teh. Sepanjang mata memandang adalah hijau daun yang membuat mata dalam sejuk. Nun jauh ke sana, perkasa Gunung Wayang Windu tampak berdiri gagah. Kepulan asap cerobong dari pipa raksasa mengepul hebat. Ya, dari sinilah pasokan listrik untuk Jawa-Bali berasal.
Jika malam, dinginnya bukan kepalang. Suhunya bisa mencapai 12 derajat celcius bahkan bisa kurang dari itu. Memasuki musim kemarau, sediakan mantel jika Anda kebetulan singgah ke dusun kami karena dingin bisa lebih dalam menembus pori-pori Anda.
Penduduknya lebih banyak berprofesi sebagai petani, peternak sapi perah, pegawai perkebunan sebagai pemetik teh atau bekerja di sector informal. Dusun kami yang damai masih tetap menyisakan bekas di mana Siskamling masih terpelihara, kerja bakti masih tetap dilaksanakan, dan manakala tidur kerap terdengar suara kodok atau jengkrik. Pun demikian jika bangun, kepak sayap dan kokok ayam akan menyadarkan kita dari nyenyaknya tidur. Itulah wajah dusun kami, kampung kami.
Bila bangun pagi, yang tentunya akan terasa dingin, penduduk di sana sudah terbiasa bahwa setiap rumah akan tersedia perapian yang berfungsi sebagai tempat memasak di mana bara yang dihasilkan dari perapian tadi berfungsi pula untuk menghangatkan badan.
Sambil menghangatkan tubuh dari perapian tadi, di atas lantai yang beralas tikar akan tersaji segelas susu sapi murni panas yang baru saja diperah. Susu itu akan terasa lezatnya jika dihidangkan dengan gula merah dan sedikit kopi.
Jika sudah jenuh dengan kehidupan kota yang sumpek, mal yang dipenuhi manekin seolah menertawakan ‘wajah’ kita, bersegeralah untuk merencanakan singgah dan mencicipi nikmatnya menjadi penghuni Dusun kami. Rasakan apa yang didapat! Jika ternyata ingin segera kembali…, tak disalahakan memang bahwa kota adalah magnet. Kembali Dusun itu sepi dan menemui keasliannya…
Perjalanan pulang kali ini ibarat nostalgia. Sebuah rekaman peristiwa yang monoton karena dari dulu hingga kini dusun kami tak banyak mengalami perubahan mulai dari inpra strukutur, ekonomi bahkan mungkin pembangunan sarana lainnya tak banyak mengalami kemajuan. Pejabatnya lebih asyik “bermain” di tingkat Pusat ketimbang turun ke kampung yang sarat jalanan becek.
Kecamatan Pangalengan jaraknya 42 KM dari pusat kota Bandung. Jika ditempuh dengan roda mesin cukup makan waktu 1,5 jam saja. Tak ada jalan alternatif, jalan yang ada itu pun peninggalan atau warisan Hindia Belanda yang awalnya merupakan jalan setapak. Untuk membuat jalan tersebut, Belanda cukup kepayahan karena harus mengikis bukit dan melibatkan lebih banyak lagi pribumi lokal.
Kampung Cipanas, adalah nama tempat kami tinggal. Disebut demikian karena tak jauh dari rumah kami terdapat Pemandian Air Panas Tirta Bidadari. Syahdan, nama ini diberikan karena jaman dulu tempat ini sering disinggahi para bidadari untuk sekedar mandi atau berendam. Sumber air panasnya berasal dari Gunung Wayang Windu, di mana hulu Sungai Citarum berada di sini.
Pemandian Air Panas Tirta Bidadari kini sudah tak seperti dulu lagi. Bangunannya tampak miring dan nyaris ambruk, kebersihan tak terjaga dan banyak pintu yang mulai lapuk. Tirta Bidadari kini benar-benar meradang. Sang “bidadari” pun tentu enggan bertamu lagi entah untuk mandi atau sekedar mampir. Bidadari, tempatnya adalah istana dan bukan tempat kumuh seperti itu. Demikian jika dianalogikan.

Sekeliling Dusun kami “dipagari” kebun teh. Sepanjang mata memandang adalah hijau daun yang membuat mata dalam sejuk. Nun jauh ke sana, perkasa Gunung Wayang Windu tampak berdiri gagah. Kepulan asap cerobong dari pipa raksasa mengepul hebat. Ya, dari sinilah pasokan listrik untuk Jawa-Bali berasal.
Jika malam, dinginnya bukan kepalang. Suhunya bisa mencapai 12 derajat celcius bahkan bisa kurang dari itu. Memasuki musim kemarau, sediakan mantel jika Anda kebetulan singgah ke dusun kami karena dingin bisa lebih dalam menembus pori-pori Anda.
Penduduknya lebih banyak berprofesi sebagai petani, peternak sapi perah, pegawai perkebunan sebagai pemetik teh atau bekerja di sector informal. Dusun kami yang damai masih tetap menyisakan bekas di mana Siskamling masih terpelihara, kerja bakti masih tetap dilaksanakan, dan manakala tidur kerap terdengar suara kodok atau jengkrik. Pun demikian jika bangun, kepak sayap dan kokok ayam akan menyadarkan kita dari nyenyaknya tidur. Itulah wajah dusun kami, kampung kami.
Bila bangun pagi, yang tentunya akan terasa dingin, penduduk di sana sudah terbiasa bahwa setiap rumah akan tersedia perapian yang berfungsi sebagai tempat memasak di mana bara yang dihasilkan dari perapian tadi berfungsi pula untuk menghangatkan badan.
Sambil menghangatkan tubuh dari perapian tadi, di atas lantai yang beralas tikar akan tersaji segelas susu sapi murni panas yang baru saja diperah. Susu itu akan terasa lezatnya jika dihidangkan dengan gula merah dan sedikit kopi.
Jika sudah jenuh dengan kehidupan kota yang sumpek, mal yang dipenuhi manekin seolah menertawakan ‘wajah’ kita, bersegeralah untuk merencanakan singgah dan mencicipi nikmatnya menjadi penghuni Dusun kami. Rasakan apa yang didapat! Jika ternyata ingin segera kembali…, tak disalahakan memang bahwa kota adalah magnet. Kembali Dusun itu sepi dan menemui keasliannya…
Jumat, 26 Desember 2008
Nu Deudeuh, Nu Maneuh
Untuk kali ini aku mungkin harus berani membuka diri sebagai identitas dari mana aku berasal. Tanah Pasundan yang ditakdirkan Tuhan sebagai negeri elok karena Bumi Parahyangan kaya akan panorama alam hebat, menjadikan aku mampu bereksperimen ke dalam bentuk prosa pendek.
Aku akan mencoba berintegrasi dengan alam tadi manakala aku merasa dicengkram oleh rasa cinta yang tak pernah hilang. "Nu Deudeuh, Nu Maneuh", yang berarti rasa sayang yang tak rela pergi ini menjadi acuan untuk puisi kali ini. Seseorang telah menunggu puisi ini, mungkin. Karena dirinya pernah mencicipi tanah Sunda, maka dia pun mengakui sanggup memahami apa yang kutulis. Benarkah begitu wahai wanita seberang? Coba simak baik-baik!
NU NEUDEUH, NU MANEUH
Sajeroning kuring leumpang
mapay-mapay jalan satapak
hariwang kurasa kamelang
anjeun keur naon waktu ayeuna?
Japati ni mawa beja
rek neruskeun hanca carita
nu geus lila jadi pasini
anjeun keukeuh henteu betus
teu wasa ngaguar gelung
Bet kieu geuning rasana
anjeun jauh dina panon
tapi rasa bet teu bisa
ngadeukeutan lewih rapet
Anjeun nu geus maneuh
ngeusi hate saban poe
anjeun nu dipikadeudeuh
ngeusi pikir saban waktu
Anjeun..., moal leungit dina pikir
didieu...kuring satia nunggu bewara
Kumbang Dusun, 261208/15.39 WIB
Aku akan mencoba berintegrasi dengan alam tadi manakala aku merasa dicengkram oleh rasa cinta yang tak pernah hilang. "Nu Deudeuh, Nu Maneuh", yang berarti rasa sayang yang tak rela pergi ini menjadi acuan untuk puisi kali ini. Seseorang telah menunggu puisi ini, mungkin. Karena dirinya pernah mencicipi tanah Sunda, maka dia pun mengakui sanggup memahami apa yang kutulis. Benarkah begitu wahai wanita seberang? Coba simak baik-baik!
NU NEUDEUH, NU MANEUH
Sajeroning kuring leumpang
mapay-mapay jalan satapak
hariwang kurasa kamelang
anjeun keur naon waktu ayeuna?
Japati ni mawa beja
rek neruskeun hanca carita
nu geus lila jadi pasini
anjeun keukeuh henteu betus
teu wasa ngaguar gelung
Bet kieu geuning rasana
anjeun jauh dina panon
tapi rasa bet teu bisa
ngadeukeutan lewih rapet
Anjeun nu geus maneuh
ngeusi hate saban poe
anjeun nu dipikadeudeuh
ngeusi pikir saban waktu
Anjeun..., moal leungit dina pikir
didieu...kuring satia nunggu bewara
Kumbang Dusun, 261208/15.39 WIB
Rabu, 24 Desember 2008
24 jam x 4 Aku Meninggalkanmu
Sekali lagi sudah terbukti bahwa aku tidak salah menebak isi pikiran ini, aku memang kurang pandai mengambil hati seorang wanita. Di mana letak kehebatan dirinya selalu saja dipatahkan ketidaksantunanku memainkan tempo pembicaraan.
Aku dan dirinya seperti berada di ruang isolasi dengan sekat tebal. Perasaan saja ternyata tak cukup untuk mengenali jiwanya. Kali ini..., aku benar-benar kalah!
Tak bisa dan tak biasa dibebani oleh rasa bersalah, seperti halnya seseorang yang kalah..., aku lantas ingin menyendiri di pelukan suasana yang bisa meninabobokan dari kesibukan semacam ini. Engkau memang benar, "cape rasanya bicara soal hati".
Jika sudah begitu, aku nyaris marah pada keadaan saat ini. Timbul perasaan syak wasangka yang tidak-tidak kepada Tuhan, "Kenapa ENGKAU begitu tega memainkan lakon hidupku seberat ini. Dengar wahai yang di sebrang..., betapa berat.
Ya..., aku akan pergi
selama empat kali putaran jam penuh
mengabdi pada keluhuran hidup
mencari kedamaian dalam sesaat saja
Barangkali dusunku akan mengubah otakku
mencuci perasaanku kembali seperti dulu
menguras pikiranku kembali utuh
jika ternyata tak bisa....
aku memang telah kehabisan akal
Engkau yang kutinggalkan...
pantas jenuh untuk bertamu karena aku begini
biasa-biasa saja, nyaris tanpa hiasan
bahkan SANGAT HITAM PUTIH
Engkau yang kutinggalkan...
pantas merasa MUAK jika melulu tentang hati
dulu MABUK, sekarang MURKA
lalu di mana aku harus sembunyi?
tak mungkin di ketiak IBUku!
Pergilah seperti yang kulakukan
tak perlu dengan mencuci otakmu
apalagi menguras pikiranmu
engkau tak sedang sakit apalagi sekarat
jantung hatimu ditunggu detaknya
oleh lelakimu..., juga buah hatimu...
Biarkan aku sendiri dengan kepulangannya
jika aku tak kembali, cari aku di INGATMU
jika tak merasakan apa-apa
aku pun tak pantas KAU CARI!
Bogor, 241208/18.52 WIB
Aku segera datang, wahai Kota Kembang.
Aku dan dirinya seperti berada di ruang isolasi dengan sekat tebal. Perasaan saja ternyata tak cukup untuk mengenali jiwanya. Kali ini..., aku benar-benar kalah!
Tak bisa dan tak biasa dibebani oleh rasa bersalah, seperti halnya seseorang yang kalah..., aku lantas ingin menyendiri di pelukan suasana yang bisa meninabobokan dari kesibukan semacam ini. Engkau memang benar, "cape rasanya bicara soal hati".
Jika sudah begitu, aku nyaris marah pada keadaan saat ini. Timbul perasaan syak wasangka yang tidak-tidak kepada Tuhan, "Kenapa ENGKAU begitu tega memainkan lakon hidupku seberat ini. Dengar wahai yang di sebrang..., betapa berat.
Ya..., aku akan pergi
selama empat kali putaran jam penuh
mengabdi pada keluhuran hidup
mencari kedamaian dalam sesaat saja
Barangkali dusunku akan mengubah otakku
mencuci perasaanku kembali seperti dulu
menguras pikiranku kembali utuh
jika ternyata tak bisa....
aku memang telah kehabisan akal
Engkau yang kutinggalkan...
pantas jenuh untuk bertamu karena aku begini
biasa-biasa saja, nyaris tanpa hiasan
bahkan SANGAT HITAM PUTIH
Engkau yang kutinggalkan...
pantas merasa MUAK jika melulu tentang hati
dulu MABUK, sekarang MURKA
lalu di mana aku harus sembunyi?
tak mungkin di ketiak IBUku!
Pergilah seperti yang kulakukan
tak perlu dengan mencuci otakmu
apalagi menguras pikiranmu
engkau tak sedang sakit apalagi sekarat
jantung hatimu ditunggu detaknya
oleh lelakimu..., juga buah hatimu...
Biarkan aku sendiri dengan kepulangannya
jika aku tak kembali, cari aku di INGATMU
jika tak merasakan apa-apa
aku pun tak pantas KAU CARI!
Bogor, 241208/18.52 WIB
Aku segera datang, wahai Kota Kembang.
Selasa, 23 Desember 2008
Lelaki Bodoh ( Jika Hati tak Mampu Dibaca )
Betapa sulitnya mendalami perasaan sesungguhnya seorang wanita. Pernah atau tidak merasa "terganggu" oleh apa yang kulakukan dan MENJADI KENANGAN atau MERASA JENUH atas apa yang kuperbuat, tetap jawaban pastinya tak kutemui. Rupanya perlu trik khusus agar aku tak merasa kepayahan tertidur pulas dalam ketidaktahuan. Suntuk yang dirasakan ternyata tak menghasilkan apa-apa, kecuali tanda tanya besar yang dengan setia mengikuti kemana kakiku melangkah.
Jika saja engkau dekat dan pernah berada di sampingku, pertanyaanku bisa terjawab oleh gerakan tubuhmu. Namun Tuhan rupanya belum rela untuk memberiku kesempatan untuk bisa melihat utuh fisikmu. Di sini, aku mungkin harus bersyukur karena kata-kataku tak pernah kehabisan oleh karenanya.
Kendati aku tak berhasil menyelami lubuk hatimu, aku masih bisa bernafas lega karena engkau dengan tak sadar pernah berucap sepatah kata yang membuat hatiku terjungkal kegirangan. Engkau pernah menyesal, yang kemudian kau anggap pula sesuatu yang tabu terucap dengan sendirinya. Aku hanya tersenyum kecil...hati memang tak pernah bisa dibohongi. Coba aliri jiwamu dengan kata-kataku..., siapa tahu engkau mau berterus terang karena bahasa tubuhmu itu sulit kutangkap!
Aku tak ingin lagi mengulang kata-kata
apalagi bertanya tentang kenapa khawatirku
tak jemu hinggap di kemana langkahmu pergi
engkau hanya bisa tersenyum, bahkan mungkin
engkau terdiam dalam kebingungan
Menutup mulut dan tak berkata-kata
sesuatu yang sulit untuk dijawab
berat memang, tapi aku terus menunggu
bukankah keterusterangan itu cahaya?
akulah sahabatmu itu..., akulah sahabatmu itu!
Dendam aku menuju masa silam
di mana hati selalu bermesraan dengan denyutmu
palsu memang, tapi aku sempat dilenakan
tak pernah menyesal...dan tak pernah merasa dilukai
aku terbiasa dengan permainan jerami hidup
Kubur saja pertanyaanku
aku tak mungkin menggali untuk kesekian kalinya
lidahku sudah kelu mengumbar hampa
senyum yang kau kulum kunikmati separuh rasa
Langkah pasti menuju rumahmu
jelas tak akan linglung pada siapa harus menuju
tatapan mataku terus menggiring ayunan kakimu
dalam diam aku sering berkata,
"aku bahagia jika kau selalu dalam senyuman"
Buat seseorang yang kini tengah menikmati masa-masa menyendirinya. Hilang dari dunia maya karena kesibukannya. Tapi aku sering merasakan kehadirannya kendati dia lantas pergi dengan cepat jika aku datang. Tersenyumlah..., karena itu yang kumau!
Jika saja engkau dekat dan pernah berada di sampingku, pertanyaanku bisa terjawab oleh gerakan tubuhmu. Namun Tuhan rupanya belum rela untuk memberiku kesempatan untuk bisa melihat utuh fisikmu. Di sini, aku mungkin harus bersyukur karena kata-kataku tak pernah kehabisan oleh karenanya.
Kendati aku tak berhasil menyelami lubuk hatimu, aku masih bisa bernafas lega karena engkau dengan tak sadar pernah berucap sepatah kata yang membuat hatiku terjungkal kegirangan. Engkau pernah menyesal, yang kemudian kau anggap pula sesuatu yang tabu terucap dengan sendirinya. Aku hanya tersenyum kecil...hati memang tak pernah bisa dibohongi. Coba aliri jiwamu dengan kata-kataku..., siapa tahu engkau mau berterus terang karena bahasa tubuhmu itu sulit kutangkap!
Aku tak ingin lagi mengulang kata-kata
apalagi bertanya tentang kenapa khawatirku
tak jemu hinggap di kemana langkahmu pergi
engkau hanya bisa tersenyum, bahkan mungkin
engkau terdiam dalam kebingungan
Menutup mulut dan tak berkata-kata
sesuatu yang sulit untuk dijawab
berat memang, tapi aku terus menunggu
bukankah keterusterangan itu cahaya?
akulah sahabatmu itu..., akulah sahabatmu itu!
Dendam aku menuju masa silam
di mana hati selalu bermesraan dengan denyutmu
palsu memang, tapi aku sempat dilenakan
tak pernah menyesal...dan tak pernah merasa dilukai
aku terbiasa dengan permainan jerami hidup
Kubur saja pertanyaanku
aku tak mungkin menggali untuk kesekian kalinya
lidahku sudah kelu mengumbar hampa
senyum yang kau kulum kunikmati separuh rasa
Langkah pasti menuju rumahmu
jelas tak akan linglung pada siapa harus menuju
tatapan mataku terus menggiring ayunan kakimu
dalam diam aku sering berkata,
"aku bahagia jika kau selalu dalam senyuman"
Buat seseorang yang kini tengah menikmati masa-masa menyendirinya. Hilang dari dunia maya karena kesibukannya. Tapi aku sering merasakan kehadirannya kendati dia lantas pergi dengan cepat jika aku datang. Tersenyumlah..., karena itu yang kumau!
Senin, 22 Desember 2008
IBU, Wanita Abadi Dalam Hidupku
Seraut wajah wanita itu tersimpan penuh di dinding hatiku. Kemana aku melangkah, riaknya tak pernah mampu untuk ditahan. Sengaja kugandeng dalam ingatan, terpatri dalam hati dan tak jenuh pula mengisi jiwaku.
Sejatinya aku akan merasa kehilangan yang amat sangat jika kelak DIA memanggilnya. Usia yang kian merambat jauh membuat aku merasa khawatir dan tak sanggup untuk berjauhan. Aku sungguh-sungguh "jatuh hati" dengan asmara yang tak akan lekang oleh gempuran nasib buruk sekalipun.
Ibu..., genggam janjiku yang kubuat dalam prosa pendekku. Kutulis khusus buat wanita yang dengan hebat melahirkan aku dengan keperkasaan dan kelembutannya manakala kmembesarkanku.
Sunyi ini kubawa dalam diam
kugendong rapat di balik punggung anakmu
sesaat saja aku sempatkan waktu untuk berpaling
mencuri waktu di antara deretan kesibukan
Seperti yang kujanjikan dulu,
kubawa buah tangan seperti yang IBU MINTA
sebuah apel merah yang kubeli di pasar kaget
karena ibu sering melarangku membelinya di supermarket
"Mal dan supermarket tempat orang kaya berkumpul"
begitu IBU sering bilang...
Sunyi yang kubawa, disambut senyum tua
di balik kebaya yang kemarin,
IBU tampak cantik hari ini
aku sumringah dengan lelehan air mata di kunang-kunang
Akh...ibuku masih seperti yang dulu
Aku memeluk tubuh kuyu itu dalam erat
kusimpan hatiku dengan rapat pada ujung bibirnya
supaya aku selalu berharap nasihatnya
santun membawa diri hingga ujung penaku kiamat
Ibu...
aku harus kembali pulang untuk mengembara
tunggu aku kembali dengan buah apel yang lebih "baik
seperti janjiku...
aku kelak ingin menjadi matahari bagi hidup IBU.
Puisi ini melenakan hidupku dalam kesibukan. Tak terasa benar-benar ingin menangis. Kini ibu berada di Dusun yang jauh dari keramaian. Semoga IBU sehat selalu sepeninggalku. Aku selalu berdoa untukmu, IBU...!
Cileungsi, Hujan belum reda.
Sejatinya aku akan merasa kehilangan yang amat sangat jika kelak DIA memanggilnya. Usia yang kian merambat jauh membuat aku merasa khawatir dan tak sanggup untuk berjauhan. Aku sungguh-sungguh "jatuh hati" dengan asmara yang tak akan lekang oleh gempuran nasib buruk sekalipun.
Ibu..., genggam janjiku yang kubuat dalam prosa pendekku. Kutulis khusus buat wanita yang dengan hebat melahirkan aku dengan keperkasaan dan kelembutannya manakala kmembesarkanku.
Sunyi ini kubawa dalam diam
kugendong rapat di balik punggung anakmu
sesaat saja aku sempatkan waktu untuk berpaling
mencuri waktu di antara deretan kesibukan
Seperti yang kujanjikan dulu,
kubawa buah tangan seperti yang IBU MINTA
sebuah apel merah yang kubeli di pasar kaget
karena ibu sering melarangku membelinya di supermarket
"Mal dan supermarket tempat orang kaya berkumpul"
begitu IBU sering bilang...
Sunyi yang kubawa, disambut senyum tua
di balik kebaya yang kemarin,
IBU tampak cantik hari ini
aku sumringah dengan lelehan air mata di kunang-kunang
Akh...ibuku masih seperti yang dulu
Aku memeluk tubuh kuyu itu dalam erat
kusimpan hatiku dengan rapat pada ujung bibirnya
supaya aku selalu berharap nasihatnya
santun membawa diri hingga ujung penaku kiamat
Ibu...
aku harus kembali pulang untuk mengembara
tunggu aku kembali dengan buah apel yang lebih "baik
seperti janjiku...
aku kelak ingin menjadi matahari bagi hidup IBU.
Puisi ini melenakan hidupku dalam kesibukan. Tak terasa benar-benar ingin menangis. Kini ibu berada di Dusun yang jauh dari keramaian. Semoga IBU sehat selalu sepeninggalku. Aku selalu berdoa untukmu, IBU...!
Cileungsi, Hujan belum reda.
Minggu, 21 Desember 2008
Kepada Bidadari yang Terluka, Bag. 2
Langit Bogor saat ini tak sehebat kemarin, murung dengan banyak awan di setiap tepinya. Hitam seperti jelaga dan berarak menjuntai hingga seperti tangan yang mencari pegangan. Sebentar lagi tentu akan hujan, dan langit biru kembali tampak…
Aku tentu tak akan rela jika kemurunganmu disamakan dengan awan. Awan hadir dan bisa menggelapkan semua isi bumi, gelap jadinya. Awan pun tak enak dipandang karena di sana tersimpan sengatan berbahaya yang mematikan, halilintar. Tak semua bernada minor memang, karena awan mengahasilkan hujan dan bumi menjadi basah karenanya.
Seperti cuaca yang sulit ditebak, aku tak pernah tahu keberadaanmu kini. Semua jalur komunikasi untuk bertanya tentangmu kuhindari, aku tak mau jadi duri dalam hidupmu. Sepeninggalmu, apakah masih serajin dulu engkau membuka laman demi laman ‘rumah’ ini atau tidak. Engkau sama sekali tak meninggalkan jejak itu. Aku yang berjanji untuk meninggalkan rumah ini, malah engkau yang terlebih dahulu berlalu. Aku kembali datang, sejatinya karena aku tak bisa membiarkan hidupmu merasa tak nyaman. Aku memang pantas berdamai dengan keadaan!
Catatan ini kurekam dalam ingatan. Langit Bogor yang katanya murung jadi saksi ketika langkah menggiring kaki menuju sebuah tempat. Coba baca dengan perlahan prosa ini!
Langkah kakiku mulai senja
terbirit-birit aku mencari tepian
sesaat saja agar aku bisa berteduh
dari rasa lelah yang mengejarku
Bersandar pada pijakan daun pintu lapuk
ngilu sendiku berujar, "sudah terkunci"
aku mencarai khabar tentangmu
tak jua kutemukan jejakmu
Tanganku menggigil dalam dingin
sebentar saja aku ingin meraba hatimu
tentu tak bisa karena engkau tetap sembunyi
dalam janji yang kau buat sendirian
Hela nafasku tersimpan rapat di dalam rongga
sesekali aku beradu cepat dengan ingatan
lekaslah hujan supaya langit tak lagi kelabu
aku sudah menunggumu sebagai sahabat seperti yang kau mau
Aku rupanya tak sendirian...
aku merasakan engkau selalu hadir
membaca dan menikmati isi pikiran ini
engkau jangan bilang mau pergi
dengan sembunyipun aku rasakan DATANGMU itu!
Cileungsi, 201208/17.32 WIB
Aku tentu tak akan rela jika kemurunganmu disamakan dengan awan. Awan hadir dan bisa menggelapkan semua isi bumi, gelap jadinya. Awan pun tak enak dipandang karena di sana tersimpan sengatan berbahaya yang mematikan, halilintar. Tak semua bernada minor memang, karena awan mengahasilkan hujan dan bumi menjadi basah karenanya.
Seperti cuaca yang sulit ditebak, aku tak pernah tahu keberadaanmu kini. Semua jalur komunikasi untuk bertanya tentangmu kuhindari, aku tak mau jadi duri dalam hidupmu. Sepeninggalmu, apakah masih serajin dulu engkau membuka laman demi laman ‘rumah’ ini atau tidak. Engkau sama sekali tak meninggalkan jejak itu. Aku yang berjanji untuk meninggalkan rumah ini, malah engkau yang terlebih dahulu berlalu. Aku kembali datang, sejatinya karena aku tak bisa membiarkan hidupmu merasa tak nyaman. Aku memang pantas berdamai dengan keadaan!
Catatan ini kurekam dalam ingatan. Langit Bogor yang katanya murung jadi saksi ketika langkah menggiring kaki menuju sebuah tempat. Coba baca dengan perlahan prosa ini!
Langkah kakiku mulai senja
terbirit-birit aku mencari tepian
sesaat saja agar aku bisa berteduh
dari rasa lelah yang mengejarku
Bersandar pada pijakan daun pintu lapuk
ngilu sendiku berujar, "sudah terkunci"
aku mencarai khabar tentangmu
tak jua kutemukan jejakmu
Tanganku menggigil dalam dingin
sebentar saja aku ingin meraba hatimu
tentu tak bisa karena engkau tetap sembunyi
dalam janji yang kau buat sendirian
Hela nafasku tersimpan rapat di dalam rongga
sesekali aku beradu cepat dengan ingatan
lekaslah hujan supaya langit tak lagi kelabu
aku sudah menunggumu sebagai sahabat seperti yang kau mau
Aku rupanya tak sendirian...
aku merasakan engkau selalu hadir
membaca dan menikmati isi pikiran ini
engkau jangan bilang mau pergi
dengan sembunyipun aku rasakan DATANGMU itu!
Cileungsi, 201208/17.32 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)