Kamis, 09 Juli 2009

Kepada Penguasa Alam

Tentu saja aku masih bisa tersenyum kendati blog ini sangat jarang aku jumpai. Tapi juga merasa sedih, seperti luka yang membiru, terasa denyutnya hingga membekas di sayatan hati.

Kepada siapa aku mesti berbagi ketika otakku tak menyimpan secuilpun sesuatu untuk ditulis. Gelapnya melingkar hati dan perasaan lalu membekas di otakku untuk tidak melakukan perintah untuk menulis hal apapun.

Kehilangan telah menjadikan aku begitu buntu. Kreasi hanya tersimpan di sudut kamar pengap dan menggelinding menuju tong sampah. Ketika kutengok, sudah sangat penuh tapi tak satupun yang berwujud. Ya, semua adalah sampah!

Coba dengar keluh kesahku wahai Penguasa Alam. Beri aku sedikit waktu untuk mengubah hidup kembali ke titik awal ketika aku tengah menerima "anugerahMu", seseorang dengan banyak pesona dan tak pernah menidurkan aku untuk tidak menulis.

Aku pulang...

Jumat, 29 Mei 2009

Mengukir Bayang-Bayang

Aku hanya bisa menemukanmu di ujung tidurku.
Berselimut perasaan yang mulai sering mengaduh,
kini pilumu tak lagi bisa aku dengar.

Aku mencoba untuk bertahan dalam perasaan yang sama,
tak berubah dan berdiri kokoh dalam heningnya.
Seperti pelangi, engkau memang banyak warna.
Kutemui sosokmu yang kemarin dan ternyata masih seperti yang dulu.

Kesetiaan rupanya hanya menghasilkan siksaan
kesetiaan hanya menghasilkan penantian dengan ujung seperti pisau
sesaat bisa membunuhku dan menyisakan luka kendati tiada tampak
kesetiaan adalah rela untuk dijadikan apa saja...

Aku pernah mengukirmu dengan bayangan serba indah
kuraba sangat hati-hati dan ternyata tak bisa kurasakan
ketika tanganku terkepal, angin hanya bisa berlalu
sepertinya, aku harus mencari kembali kepalan itu.

Minggu, 24 Mei 2009

Ilalang Semusim Jagung

Lama ditinggalkan, sisi kiri rumah pekarangan ini tampak kuyu kelabu. Sangat tak terawat. Pintu yang mulai sulit dibuka karena karat telah lama mengendap menjadi tambah kekuningan. Cuaca yang datang tak menentu membuat rumah ini kesepian dalam penantian yang tak berujung. Aku rupanya telah kehilangan makna untuk berkata-kata. Seisi pikiran tiba-tiba mengendap dalam balutan yang hampa, nyaris seperti awan yang sebenatr menggulung, sebentar ditiup angin.

Coba dengar wahai Kumbang Dusunku. Kini Aku datang hanya untukmu...


Khabar baik, bukan?
Akha..., engkau termangu begitu
kemana kebiasaanmu bersungut seperti senja dulu
ocehanmu lantang mengisi bening
kini punggungmu tampak membelakangi aku

Aku rupanya lelaki biasa
yang tak bisa berkata-kata tanpa isi hati
menipu menjadi mesra aku tak bisa
apalagi harus bermain sandiwara dalam lakon
aku lah lelaki kekinian
yang mencoba bicara seperti apa yg ada di hati

Sesekali aku sering memungut cerita sahabatmu
yang katanya sudah jemu untuk bertamu
terlalu sibuk menata rumah, walau hanya meletakan gelas
tiada keabadian memang....

Semusim jagung aku meninggalkanmu
tak banyak jejak yang terekam
aku tetap berada di sampingmu
mereka ulang isi cerita dengan tokoh yang berbeda
semoga kali ini memang lain...

Senin, 06 April 2009

Nyanyian Kumbang Dusun

Kurus kering rupa gagahmu
dicabik muka ayu semalam suntuk
Hadir dalam mimpi seperti kemarin
Mengajakmu pesta asmara

Hanya mimpi yang engkau gauli
Nikmatnya hanya sebatas harap
Otak menyimpannya begitu rapi
Hingga engaku telanjang di dirinya

Obral janji dalam semedi
Dibiarkan mulutmu ternganga
Jutaan pengakuan dimamahnya
Tak ada seringai bahkan senyuman
Seperti mimpi, tiada rasa tiada apa
Dia diam tak mengacuhkanmu

Kurus kering wajah hebatmu
Terbujur kaku dalam jambangan
Tak lagi elok bunga dan daunmu
Puisimu tak lagi menggugah
Diinjak malam dan siang sepekan
Air itu kian jauh meninggalkanmu
Semua tak ada yang abadi…

Paksakan saja untuk tersenyum
hidupmu adalah milikmu
jalankan kayuh sampanmu
hingga menepi di dermaga itu

Dusun Kami, 060409/1417

Kamis, 26 Maret 2009

KOSONG

Cukup lama aku tak mengencanimu
Jika ternyata harus datang...
itupun selalu dari kejauhan dan hanya memandang saja
tak ada bahan tulisan yang kusimpan
hingga aku rela untuk berpaling kepada aingin

Otakku begitu padat dengan coretan
tentang kamu, engkau juga mereka
Tak satupun yang kusimpan, terasa bias
senyap yang kumiliki serta merta sirna
sebab yanga ada hanyalah tarian kesendirian
dengan sudut bibir yang terasa masih bagus

Bibir yang kini terus terkatup
Singgah pada sebuah keabadian
lunglai dalam pelukan awan putih
melulu bercerita tentang ketidakberdayaan
untuk menari dalam gamelan sedu sedan itu

Kembali aku akan terlambat menjengukmu
buah pikiranku sedang terantuk bebatuan
ada kekosongan pikiran dan kesulitan berkelana
seperti kembang kertas, gugur bersama senyapnya angin
entah kemana aku harus mencari
membangunkan dari 'tidurnya' sungguh tak mungkin
karena aku "TAK TURUT MENYELIMUTINYA"

Engkau sepertinya tahu dengan apa yang kutulis...

Senin, 09 Maret 2009

Kepada Sahabat ( Bisa Karena Biasa )

Apa khabar, sahabat?

Sebentar lagi matahari akan dengan lekas sembunyi. Merapat di balik ufuk dan baru muncul esok hari. Rindu pada sinarnya dan selalu menginginkan terang itu datang setiap detik, tapi rupaynya tidak bisa karena malam hari akan segera menggantikannya. Bersyukur jika malam ini ada bulan, tapi itu pun muncul nanti setelah sepertiganya.

Kita benar-benar tak bisa melawan alam. Tuhan telah menggariskannya dengan tepat bahwa rotasi tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika toh bisa mengubah, itu pun dengan bantuan lilin atau obor, tentu terangnya tak sehebat matahari.

Apa yang kita jalani juga adalah sebuah rotasi dan perputaran jalan hidup. Setiap manusia membawa sejarahnya masing-masing. Pahit dan manisnya sabar kita jalani. Suka dan dukanya pasrah dijalani. Curam dan terjalnya rela kita daki, biar semua berakhir dengan pahala. Ya pahitnya, ya manisnya.

Engkau tentu sedang berlomba menghadapi pahit manis itu, bukan? Manis karena apa yang engkau minta sesaat lagi akan jadi kenyataan. Sebuah permintaan khusus sering kau senandungkan lewat sujudmu. Meminta pada YANG PUNYA HIDUP untuk diberikan lagi satu penerus, supaya buah hatimu yang telah lama hadir tak merasa kesepian.


Pahitnya, jika boleh dibilang demikian, adalah romantikanya satu episod di mana itulah seninya orang yang tengah "DIKABULKAN" permintaannya. Maksud Tuhan mungkin adalah supaya kita lebih menghargai atas pemberiaNya jika kelak kita lupa untuk bersyukur.

Aku, sebagaimana engkau tahu, bukanlah malaikat. Manusia biasa yang tentunya punya sisi buruk juga, seperti engkau, mereka dan juga milyaran manusia lainnya. Hitamnya hidup, merupakan bagian dari sisi buruk itu sendiri. Apa yang tengah engkau alami merupakan sisi manis sebuah kehidupan. Jangan dibuat hitam dengan keseringan mengaduh. Kuatkan saja, tersenyum dalam ikhlas, dan tentu..., selalu tabah menjalani.

Seperti matahari, aku selalu rindu untuk datang menyapamu. Tapi rupanya cuaca sedang tak bagus karena sebentar mendung, sebentar cerah. Lain dari itu, engkau sedang fokus pada jadwal hidupmu, mengantar dan memanjakaan buah janin itu.

Jalani semua dengan tabah. Inilah kehidupan. Semakin nikmat direguk, semakin sering kerikil yang akan kita lalui.

Dalam damai hati ini, aku tak pernah lupa berharap lebih baik pada jalan hidupmu. Barangkali aku tak akan merugi jika dalam sujudku menyelipkan sebait doa bagi hidupmu...

Kamis, 05 Maret 2009

Senyum Matahari

Hening yang kita punya adalah milik bersama. Tapi cahaya yang kau miliki adalah seutuhnya milik diriku. Tak sempurna memang sinar yang kau miliki. Kendati redup, selalu kuburu karena setiap saat ingin bersamamu.

Sepertinya aku telah kehilangan sinar itu. Kukejar, nyaris ke semua penjuru. Mencari berita dan berusaha meneropong melalui mata hatiku. Engkau belum juga kutemui di mana geragan berada.

Barangkali sebagai obat manakala hatiku terkikis karena mengingatmu, nyaris seperti mengigau aku berteriak dalam hening itu. Malam yang menusuk tulang...


Aku ingin menyusupmu
pada bathin kecil tak bertajuk
meraih isi hatimu
dan dikepal untuk selamanya

Ringkih yang aku punya
tak berarti aku harus menjauh
apapun dirimu, tetap bagian sisi tubuhku
wajah selembut embun itu...
menyayat hati sedetik tak ditinggalkan

Kuberi nama sebagai Senyum Matahari
karena engkau adalah penerang
pelukan hangat yang sempat terjalin
lalu melepuh dengan perlahan
pergi dalam ketidaktahuan

Senyum ini...
tentu abadi hanya milikmu seorang
rangkul aku dalam cuaca apapun
sebab aku adalah gunung bagi hidupmu
kemarilah,wahai Mmatahariku...